::Organization XIII::


ShoutMix chat widget

Wednesday, April 27, 2011

[Fanfic] Teach Me!! (Part 1)

Title: Teach Me!! (Part 1)
Author : RyokoX1Chou @ Blogspot a.k.a Chacha
Rating : PG
Disclaimer : the GazettE and Hey! Say! BEST are not mine, Kai and Inoo are mine! >D They are belong to themselves, PSC, JE and labels.

****

Suatu hari, di dalam ruang latihan yang dikelilingin dengan kaca sepuluh anggota dari Hey! Say! JUMP sedang bersenda gurau disalah satu meja didalam ruangan tersebut seusai latihan dance.

“Eh, masa ya gw dapet surat fans yang agak gimana gitu tapi entah kenapa gw tertarik juga buat ngelakuin ini.” Hikaru tiba-tiba menyela pembicaraan yang sebelumnya sedang dibicarakan, kata-katanya membuat topik pembicaraan menjadi random.

“He? Apaan tuh?”

Inoo bertanya sambil menopang dagunya, penasaran juga karena jarang-jarang Hikaru mau melakukan sesuatu yang diminta dan langsung tertarik pula.

“Kita nyanyi lagu Rock Metal buat di JUMP band—serius, gw pengen banget lho ngiringin musik keras! Masalah lyric serahin ke gw deh, trus Takaki bisa ngescream ga sih?”

Hikaru begitu bersemangat ketika menceritakan dan merencanakan itu semua, merasa kalau ia akan bisa benar-benar merasakan menjadi seorang musisi. Begitu perasaannya. Sementara Takaki sebenarnya sudah berpikir ‘ngga banget deh ngescream’ dikarenakan ia sudah merasa suaranya sudah cukup ngerock kok.

“Apaan? Gw ga bisa pake ngescream gitu. Lo kan bisa bikin musik rock yang ga usah pake scream. Bisa kali.” Takaki menolak.

“Hih, lu tuh ga ngerti sense of musicnya lagu rock. Lagu Rock Metal itu sudah identik dengan SCREAM, mamen!”

Takaki cuma bengong melihat itu, tidak bisa membantah. Tapi kalau begini posisinya berarti bisa diganti oleh member lain kan? Waktu itu saja Takaki duet dengan Chinen kok.

“Kalau begitu, apa yang lain tidak ada yang bisa scream?” Takaki bertanya kepada yang lain.

—Krik

“Oke, ga ada…” Tidak perlu menunggu lebih lama lagi ia langsung menetapkan pendapat kalau yang lain juga tidak ada yang bisa scream.

“Ngomong-ngomong, Hikaru jangan lupa bagian keyboardist ya” Inoo menyela, masalahnya Inoo mulai khawatir kalau-kalau nanti bagiannya keyboardist malah jadi tidak ada gara-gara alirannya berubah jadi Rock Metal.

“Oke, tenang saja Inoochan! Bagian Inoochan pasti ada kok!!” Hikaru mengangkat jempolnya kepada Inoo.

“Terus vokalisnya?” Terdengarlah suara Daiki tiba-tiba.

“Takaki lah—lo cari guru gih. Atau minta bantuin sama band-band visual kei tuh. Banyak kan yang alirannya Rock Metal. Lo minta ajarin aja—” Kata Hikaru dengan santainya.

“Ngomong gampang, nyarinya susah! gw juga ga berani kalau minta diajarin sendirian aja. Serem tau orang-orang yang gayanya Visual Kei begitu!!” Takaki teriak-teriak antara menolak dan tidak juga.

“Ah! Tampang lu doank preman! Hati lu melayu banget!! Gw temenin!!” Daiki menawarkan dirinya sendiri untuk menemani rekannya itu dengan begitu percaya diri.

“Tuh Chibi mau nemenin! Berani juga lu…” Kata Yabu kemudian memandang heran Daiki.

“Gw penasaran aja sih sebenernya—” Daiki manggut-manggut tanpa alasan pasti.

“Haah, yasudah deh. Nanti aku liat keadaan dulu—ya?” Takaki pasrah saja kalau sudah dipaksa-paksa begini.

“SIP!!” Hikaru tersenyum puas, senang kalau temannya dalam satu grup itu mau melakukan hal itu untuk dapat mewujudkan harapan Hikaru.

*****

Takaki duduk diatas bangku yang ada di halte bus, menghembuskan napasnya, bukan lelah, tapi ia jadi memikirkan nasibnya kalau betulan dia harus melakukan scream. Rasanya seperti beban yang begitu berat dengan tegarnya berdiam di atas bahunya. Kalau Hikaru suruh dia berguru dulu itu memang benar, tapi masalahnya kenalan dari band semacam itu saja ia tak punya. Jadi, harus bagaimana?

“Hei, Takaki-san.”

Seseorang menepuk pundak Takaki yang sedang terdiam membatu, membuatnya sadar ketika sudah ada yang menegurnya.

“Eh, Midori-san—” Iya, dia itu adalah seorang wanita yang merupakan hairstylist Hey! Say! JUMP ketika akan melakukan konser atau PV. “—Mau kemana?” Tanyanya, basa-basi.

“Mau pergi kerumah teman. Hehe, katanya dia habis ganti gaya rambut. Jadi aku disuruh melihat rambut barunya, haha.” Kata wanita itu, Takaki hanya membalasnya dengan senyum. Wanita itu memang selalu mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan dan terlalu banyak bicara. Serius, itu seharusnya cukup menjadi rahasianya dan temannya saja.

“—temanku itu hairstylistnya band Visual Kei sih, makanya dia sering ganti gaya rambut. Padahal aku juga dulu itu suka menata rambut artis Visual Kei, ribet lho.”

Takaki terbelalak seketika mendengar kata-kata dari wanita itu.

—Replay—

”…temanku itu hairstylistnya band Visual Kei sih…”

—Replay—

”…Visual Kei sih…”

—Stop—

“HE?! Temanmu itu hairstylist band aliran apa? Rock Metal bukaaan??” Takaki kemudian berteriak tiba-tiba, cukup mengagetkan wanita di sebelahnya itu.

Wanita itu menutup telinganya kemudian baru menjawab, “Iya—kalau tidak salah.” Melepaskan tangannya dari telinganya kemudian menatap keatas, memberikan gerakan seakan ia sedang berpikir keras. “Kalau tidak salah—the GazettE dan band dari PS Company. Kau tahu tidak the GazettE? Ha? Aneh juga sih kalau tidak tahu, tapi tidak aneh juga deh. Entahlah.”

Lelaki yang tadi dilanda kegalauan, kini bisa tersenyum lebar karena ternyata dalam bebannya untuk bisa mewujudkan keinginan Hikaru, ia telah menemukan titik terang.

“Hei—aku bisa minta bantuanmu?”

*****

Takaki berjalan dengan tegarnya di jalan Shibuya, walaupun ditemani oleh Daiki. Mereka menuju McD, dimana tempat yang merupakan tempat janjian dengan seseorang disana. Bukan dengan seorang gadis yang jelas, mereka masih belum punya pacar.

Iya, Takaki mau bertemu dengan Vokalis dan Bassist dari the GazettE. Ruki dan Reita. Setelah Takaki meminta tolong dengan Midori-san untuk meminta nomor kontak band itu dari teman Midori-san dan menjelaskan tujuannya untuk meminta kontaknya. Baik sekali Ruki masih mau bertemu dengannya ditempat itu. Ternyata dia sedang beruntung.

“Ng, serius lo janjiannya di McD? Gw ga nyangka kalau Rocker kayak begitu suka juga sama makanan yang ada di McD.” Kata Daiki dengan polosnya.

“Emangnya kalau Rocker makanannya yang kayak gimana? Ha?”

Daiki tidak menjawab pertanyaan itu, dia sendiri tidak tahu rocker itu makan apa.

“Eh, ngomong-ngomong Takaki, the GazettE itu band-nya kan serem tau. Mana ada yang idungnya buntung. Gw baru aja liat di TV tadi tengah malem. Hih, sereeem!” Lelaki kecil itu sedikit menunjukan ekspresi takutnya.

“Justru itu, gw udah sering liat mereka sih. Screamnya keren juga kok.”

Keduanya masih terus berjalan dan mereka sudah dekat dengan tujuannya. Baru mau berjalan menuju pintu masuk, Takaki bertemu dengan dua orang dengan kaca mata hitam dan Takaki tahu pasti mereka adalah orang yang sudah membuat janji dengannya, mereka berdiri di depan McD.

“He? Ruki-san kan?” Bertanya dulu sebelum salah.

Pria yang ditanya kemudian mendongak, melihat seorang anak muda yang jauh lebih tinggi darinya sedang berdiri dengan gagah dihapannya.

“Iya. Takaki-san ya?” Tanya pria yang masih mendongak itu dengan suara besarnya.

“I-iya.” Takaki sedikit bergetar, baru dengar suaranya saja kok seram sih. Padahal orang itu lebih pendek darinya.

“Aku Reita, bassistnya the GazettE. Hehe…” Kata pria dengan hidung pesek disebelah Ruki.

“Tsk.” Ruki mengeluarkan suara itu sedikit mengeluh. ‘sialan, gw berasa pendek sendiri disini’ Pria itu bergantian menatap Takaki dan Reita dengan wajah yang begitu jengkel dan kemudian matanya tiba-tiba menatap eksistensi seorang bocah yang memiliki tinggi yang sama dengannya, sehingga ia tidak perlu mendongakan kepalanya. Ruki menatapnya dengan bingung dan menatapnya agak lama.

“Ng, dia temanku juga. Arioka Daiki” Langsung saja Takaki mengenalkan Daiki kepada kedua orang dihadapannya. Apalagi sudah tahu kalau Daiki sedikit takut dengan mereka.

“Eh, dia pendek juga ternyata ya! Kawaii deh!! Aku pikir Rocker itu pada tinggi-tinggi lho!!” Daiki berkata lagi dengan polosnya, sementara Takaki mulai tidak tahu lagi harus berkata apa. Tapi jelas tersirat dari wajah Ruki menunjukan kalau dia Shock.

Batin Ruki : ‘Gw dibilang kawaii… Gw dibilang kawaii...

“Sabar ya Ruki… Ternyata selama ini, bukan cuma gw doang yang bilang kalau lo itu kawaii—” Reita berbisik sambil menepuk pundak Ruki agar rekannya itu bisa sabar.

“…..”

Ruki terdiam.

*****

Mereka berempat mulai memasuki McD dan tanpa bertele-tele mereka langsung bicara pada pokok pembicaraan selagi Daiki menikmati hamburgernya yang begitu banyak.

“Wah, temanmu itu keren ya. Beli hamburger sampai delapan begitu.” Reita tertawa dengan sedikit takjub melihat Daiki yang memesan banyak hamburger. Takaki hanya diam saja, dia sih sudah biasa melihat ini.

“Pantas ya, temanku ini juga biasanya beli hamburger sampai sepuluh. Karena ada orang tak dikenal saja dia jadi cuma beli ice cream. Makanya tingginya ke samping, mungkin temanmu juga ya. Hahahaha—” Reita kembali berbicara sambil menunjuk Ruki.

“DIEM AJA LO!” Ruki langsung memencet hidung Reita dengan penuh emosi. Jelas itu meninggalkan bekas merah dihidung pesek Reita. Sementara itu, Daiki shock mendengar kata-kata Reita.

Batin Daiki : ‘Tingginya ke samping… Tingginya ke samping…’

“Sabar ya Daichan—” Takaki menepuk bahunya temannya itu.

“Oke, langsung saja! Sebenarnya kau mau minta apa padaku? Kata hairstylistku kamu ada urusan tentang grup boyband-mu itu. Lalu, apa urusannya denganku?” Ruki berkata dengan cepat. “Anak Johnny’s lagi” Berbisik pelan dibagian itu. Ingin rasanya ia bernyanyi HYENA didepan dua orang itu.

“Ruki-san, kumohon! Ajari aku scream, dua hari saja deh!!” Takaki Yuya memohon dengan wajah yang minta dikasihani oleh rocker imut dihadapannya.

“Ha?? Ngapain juga gw ngajarin lo, mau bayar gw berapa? Ha?”

Ruki menjawabnya dengan tampang super songong, Reita Cuma melihatnya dengan wajar. Lagipula Reita tahu kalau Ruki tidak begitu suka dengan anak-anak dari agency itu.

PLEASE! Gw tuh udah suka banget sama suara lo, begitu liat lo di TV. Gw suka banget sama scream lo! Sementara band dari grup gw mau gw bisa scream. Astaga, ajarin gw lah!”

Menyesuaikan bahasanya dengan Ruki, Takaki semakin meminta-minta kepada seseorang yang tiba-tiba menjadi sangat bangga dengan suaranya sendiri.

“psst, Ruk lu ga takut apa ntar band kita dikalahin ama mereka?” Reita berbisik pelan ke telinga Ruki. “psst, no problem… mereka kan anak boyband, bandnya cuma selingan kayak kentut, ga bakalan ngalahin kita yang udah terlanjur keren ini—Fufufu.”

“UUH!! Ajarin Takaki donk, Ru-chan! Kumohon!!” Daiki ikut memohon kepada Ruki, Daiki jadi ikut kasihan dengan tatapan Takaki dan lagi terlihat jadi tidak meyakinkan ketika melihat si hidung pesek dan si boncel mulai bisik-bisik.

“HEH!! Ru-chan??!! Lu pikir umur lu udah lebih tua dari gw?! Gw aja belom tentu mau manggil temen gw Rei-chan! Hueek—” Ruki mulai sewot seketika ia dipanggil ‘Ru-chan’ oleh anak kecil itu.

“Khkhkhkh, Ru-Ru-chan… khkhkhkh” Reita menahan tawanya, sebisa mungkin untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Ia sebenarnya sudah bisa merasakan tatapan maut Ruki.

“Ah, sayang sih lo anak Johnnys. Coba lu bukan anak Johnnys pasti gw ajarin deh. FREE~ Ga usah dua hari, besok latihan ama gw langsung keren scream lo…” Kata Ruki lagi, sedikit menyombong dan senyum-senyum licik melirik Takaki.

“Muka lu juga dipoles dikit bisa bikin band visual kei tuh. Dasar muka lu udah visual kei banget sih—” Lanjut Ruki “—Keluar aja dari Johnnys” Katanya dengan ekspresi yang sedikit serius.

“EH?! APAAN! Ga mau ah! Ye, klo gw ga di Johnnys… gw ga mungkin pas pertama debut udah di Tokyo Dome, emangnya elu nungguin 9 taun dulu baru ke Tokyo Dome”

Takaki mulai membantah, tentu anak jebolan Johnnys yang satu itu tidak mau melepas keberadaannya sekarang.

“Iye, iye! Gw cuma bercanda kali. Serius amat lu. Nih ya, gw ajarin deh, Free. Tapi lu musti ngakuin gw jadi guru lu dan gw maunya tampilan scream itu ada selama grup lu ngeband, satu kali tampilan perform dua lagu, gw juga maunya lu ngasih rekaman hasil lagu lu ke gw—ga mau tau, pokoknya harus ada rekamannya! Gitu doang, ga masalah kan?”

Ruki tiba-tiba saja berubah pikiran untuk mengajarkannya Scream secara cuma-cuma. Di benaknya tersirat, bahwa jarang-jarang anak buah dari suatu agency yang tidak begitu ia sukai malah memintanya untuk jadi guru vocal. Suatu kebanggan tersendiri.

“Oke, tidak masalah!” Kata Takaki dengan girang.

“Horeee—!! Yaampun, Ru-chan baik sekali!!” Dilanjutkan dengan suara Daiki yang ikut girang sambil masih memakan hamburgernya.

“Yasudah, latihannya langsung besok aja di studio GazettE ya. Nanti malam gw kirim email alamat studionya ke lo. Oke?” Kata Ruki lagi.

“Sip! Tapi besok gw bawa beberapa temen-temen gw… ga apa-apa juga kan?”

“Terserah—”

Ruki menjawab seadanya. Tidak lama kemudian Ruki dan Reita pamit pergi duluan meninggalkan Takaki dan Daiki, karena Ruki sudah merasa urusannya sudah selesai. Saatnya jalan-jalan.

*****

Takaki bersama beberapa teman-temannya di JUMP Band yaitu Yabu, Hikaru dan Inoo datang bersama ke studio Gazette yang sudah diberitahu oleh Ruki di malam sebelumnya. Daiki pun ikut-ikutan karena merasa teman-teman Hey! Say! BEST semuanya pergi kesana. Daiki mengaku ingin bertemu Ruki lagi, seseorang yang punya tinggi sama dengannya, lebih tua lagi.

“Permisi—”

Yabu coba memanggil dari luar ruangan yang dikatakan studio the GazettE di dalam sebuah gedung. Jelas, mereka mengikuti itu dari instruksi dari Ruki.

Seseorang membuka pintu itu.

“He? Siapa?” Pria itu bingung, melihat sedikit lama. Baru otaknya connect. “OH! Yang mau minta diajarin sama Ruki ya?? Masuk, masuk!!” Kata Pria itu dengan ramah.

“Hei, hei.. Dia sama sekali tidak mencerminkan seorang Rocker deh…” Daiki berbisik kepada Inoo, lagi-lagi dengan polosnya. Inoo hanya mengangguk pelan.

“Err—kenapa lo bawa temen banyak amat? Temen segrup lo semua itu?” Ruki yang melihat Takaki sudah ditemani empat orang temannya, termasuk bocah yang sudah memanggilnya Ru-chan.

“Ne, Ru-chan! Ini aja baru berlima—kita kan ada sepuluh!” Kata Daiki seenaknya menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan untuk Takaki.

“HEH! Ru-chan lagi!! Kapan sih gw pernah bilang lu boleh manggil gw Ru-chan?! HA?!”

“Kemarin! Kemarin waktu aku panggil Ru-chan untuk kedua kalinya, Ru-chan ga membantah tuh!!”

“SIAPA BILANG?! Gw ga suka dipanggil pake embel-embel CHAN! Gw gigit lu!”

“Ih—Kan lucu! Aku aja dipanggil Daichan seneng-seneng aja tuh!!”

“AARGH! Sesama anak SD ga usah berantem deh! Berisik tau ga sih?!” Reita yang sudah pernah mendengar panggilan Ru-chan itu sudah cukup kebal dengan itu. Kemarin Reita sudah mentertawakan Ruki habis-habisan setelah pulang dari McD.

“BWAHAHAHAHA!!” Sementara suara Kai yang tertawa terdengar jelas disana. Tertawa memegangi perutnya di pojokan studio.

Kelima personel Hey! Say! BEST dan kedua rekannya cuma bisa memandang aneh orang yang sedang tertawa itu.

“Tsk.” Ruki kemudian duduk di kursinya, mencoba tenang dan mengingat kalau lelaki tadi itu masih kecil. Masa ia bertengkar dengan anak kecil sih, inget umur—inget umur.

“Yasudah, mau latihan sekarang, Takaki?” Ruki bertanya kepada Takaki dan memberikan tatapan—Lu ga usah jawab deh! Gw nanya Takaki!—kearah Daiki.

“Oke, boleh!” Takaki menjawabnya “Mohon bantuannya ya!”

“Ya, ya…” Ruki melambaikan tangannya pelan. “Ng, lagunya—pake lagunya gazette aja ya. Ga masalah kan?”

Ruki menyeringai, berpikir bahwa si anak dibawah agency Johnny’s Entertainment itu akan menyanyikan lagunya. Kalau begini Ruki sudah menang, apalagi kalau bisa membuat murid sementaranya itu menyanyi HYENA atau ANTI POP. Buh, Ruki sudah menang telak.

“ng, belajar scream kan omong-omong? Enaknya apa ya untuk awal-awalnya—heh, Reita, Kai ada saran ga?” Ruki bertanya kepada kedua rekannya itu yang sedang asyik ngobrol dengan Hikaru, Yabu dan Inoo.

Before I Decay—” Tawar Reita. “—Leech aja” Sementara Kai sudah lain lagi.

Leech aja deh, Before I Decay ntar aja kalau udah bisa. Tau lagunya ga sih lu?” Ruki bertanya dulu, kalau belum tahu ya dengar dulu, syukur-syukur kalau ternyata dia tau lagunya.

“Tau kok!! Kemaren baru download!” Kata Takaki, frontal.

“Wah, rese amat lo download-download lagu orang. Beli mas, beli!” Ruki mulai bawel kalau sudah berurusan dengan karyanya yang tersebar di internet. “Iya, ntar gw beli kalau gw udah bisa scream! Ajarin dulu!!” Takaki mengalihkan pembicaraan itu.

Sementara Takaki diajari scream oleh Ruki dan Daiki menyaksikan Takaki yang sedang diajari. Yabu, Hikaru dan Inoo sekarang malah asyik ngobrol sama Reita dan Kai.

“—begitu.” Kata Reita mengakhiri kata-katanya.

“Oh, begitu…” Jawab Hikaru.

Ini apanya yang begitu yak? *plak*

“Aku juga mau yang gitarnya—gitaris kalian tidak ada ya??” Kata Yabu agak kecewa.

“Mereka berdua lagi jalan-jalan, sebentar lagi mereka muncul tiba-tiba… hehehe—” Jawab Kai seketika ia melihat lelaki itu terlihat kecewa.

Hikaru sudah banyak menanyakan beberapa hal tentang Bassnya. Sekalian konsultasi tidak ada salahnya, menurutnya. Yabu ngangguk-ngangguk aja melihat mereka bicara. Sementara Inoo, sebenarnya daritadi matanya terlalu terfokus dengan kain yang menempel di hidung Reita.

‘Itu permanent ga sih?’ Inoo berpikir keras, bahkan lebih keras daripada ketika ia memikirkan tugas kuliahnya. Inoo sudah sering melihatnya, apalagi noseband itu selalu terlihat setiap the gazette menjadi cover majalah. ‘Gimana cara napasnya itu?’ Inoo berpikir lagi.

Reita tampak sadar dilihat oleh orang cantik yang satu itu, ia mulai bicara lagi.

“Neng, ada apaan liat-liat abang Rei terus? Abang ganteng ya?”

“Ha? Apaan?! Gw cowok tau! Neng, neng lagi…” Kata Inoo tiba-tiba. Yabu dan Hikaru juga langsung jagain Inoo supaya tidak diterkam oleh Reita.

“REITAAAA—!!”

Suara Ruki mulai terdengar begitu sangar dan tatapannya juga jadi menyeramkan. Bahkan ia jadi melupakan murid dadakannya itu. Reita langsung mengalihkan pandangannya.

“He? Oh, gw pikir dia cewek. Mukanya lebih natural daripada Uruha deh—ASLI LHO!” Kata Reita lagi.

“—Apaan nyebut-nyebut nama gw?!” Seseorang dibelakang Reita menepuk pundaknya secara tiba-tiba.

“HUWAAA!!” Reita sontak histeris begitu seseorang menepuk pundaknya dan melihat wajah Uruha sudah dihadapannya.

“……”

Uruha diam sesaat, kemudian menatap Aoi yang datang bersamanya.

“Oi, makeup gw rapi kan?? Luntur ga sih?? Atau gw malah lupa pake makeup lagi nih—” Uruha bertanya panik kepada Aoi.

“Nggak, bedak oke kok udah tujuh lapis! Eyelinernya juga udah waterproof, lipsticknya juga mantap, yang baru kemaren beli! Lengkap kok dandanan lu!” Jawab Aoi.

“Kok dia ngeri gitu sih liat muka gw?” Uruha menunjuk Reita dengan kesal. Aoi hanya menggeleng. “Gw kaget! Gitu doang.” Jawab Reita.

“Ih! Nih anak lucu deeh!!” Uruha tiba-tiba jadi heboh sendiri ketika melihat Daiki dan segera menghampirinya. “Namanya siapa dek??”

“Haaa? Kakak cantik deh!!! Aku Arioka Daiki, dipanggil Daichan juga boleh!!” Kata Daiki jadi ikut heboh karena orang itu semangat juga.

“Khkhkhkh, kakak cantik…khkhkhk, wahahaha—!!”

Kai spontan tertawa kembali mendengar dialog itu, biasanya Uruha tidak akan begitu suka dipanggil orang cantik. Aslinya juga ga cantik kok! *Authornya dibuang ke antartika*

“DIEM LU KAI!” Uruha jadi emosi sendiri, kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Daiki.

“Siapa nih bocah-bocah? Tadi kita main masuk aja sih nih…” Aoi bingung dan baru bertanya setelah melihat studionya jadi ramai begini. “Oh, yang jadi murid dadakannya Ruki ya?”

“Bukan bocah tau, kita nih justru udah pada tua-tua—” Jawab Yabu “—maksudnya tua juga bukan berarti bangkotan, gw aja tahun ini udah 21 tahun” Lanjutanya “Yang itu, yang paling muda aja baru 20 tahun tuh dia!” Kini Yabu menunjuk ke arah Daiki.

Ruki yang mendengar itu kemudian mulai menatap seorang Chibi yang didekatnya.

“HAH?! 20 tahun?! Chibi kayak kamu sih pantesnya balik lagi ke SMP sana, jangankan SMP—SD juga masih pantes.” Kata Ruki yang sedikit tidak percaya bocah itu sudah kepala dua.

“IH! Apaan coba?! Ru-chan juga kalau ditaro di SD masih pantes tauuu!!!”

“YE! Muka gw sih kalau dikata 20 taun masih pantes—lah elu mah pantesnya dikata anak SD!”

Kedua Chibi itu beradu congor dan tidak kian selesai. Pertarungan antar orang pendek sepertinya tidak akan cepat selesai. Takaki minta-minta lagi supaya dia diajari scream dan pertarungan itu selesai—sementara.

“He?? 21 tahun udah dikata tua ya? Apalagi….” Kai memainkan stik drumnya sambil melirik Aoi dan mengasihani dirinya sendiri yang sebentar lagi mau kepala tiga.

“Apaan lu liat-liat gw?” Aoi menatap jengkel kearah Kai, sementara Kai jadi cuma nyengir kuda.

*****

Udah ah, sampe sini dulu~ XD

Ngomong-ngomong ada 2 kalimat yang gw rada ngikutin kata2 seorang author lain~ ;)
tapi gw usahain supaya agak beda sama yang punya ide kalimat itu~
bagi yang merasa pernah liat atau mungkin Authornya yang liat kalimat itu nangkring di fanfic saya, saya credit situ ya~

Soalnya gw lupa yang bikin fanfic itu waktu itu siapa~ -__-

ada part 2nya lagi... entah kapan gw lanjutin~ *plak*
comment ya~ =="

3 Hearts:

  1. *ngakak kejer*
    DAIKI KETEMU RUKI! DAIKI KETEMU RUKI! =)) =))
    RU-CHAAANNN!!! =)) =)) =))
    Naon dah sumpah =)) =)) =))
    LOLOLOLOLOL =))
    Mampus apaan noh si Inoo ngeliatin idungnya Reita =)) =))
    ADUH LANJUT CHA LANJUT!!! =))

    /masih ngakak kejer ampe kejungklang

    ReplyDelete
  2. TOLOOOOOOOOOOLLLLLL

    astaga...
    puas ngakak bacanya XDDDDD

    ReplyDelete
  3. hohoh, terima kasih teman2 mau baca~ ;)

    @fietha
    keren kan, Daiki ketemu Ruki~ =))
    hohoh, itu masih ada lanjutan lagi Inoo sama Reita~ x3 *hints* *dibuang*
    oke, tunggu aja yo~ X3

    @chika
    waah, jadi malu saya~ ///w///
    *ngapain?*
    tunggu lanjutannya ya~ x3

    ReplyDelete